Ekonomi

Ini Saran Buat Pemerintah RI Pascareferendum Inggris

Seorang pria bersepeda di depan gedung Kanselir Jerman

Jakarta – Pascareferendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang dikenal Brexit, perekonomian global akan semakin melesu dan berdampak besar bagi Indonesia. Pemerintah Indonesia diharapkan segera menyusun strategi ‘mengencangkan ikat pinggang’ sekaligus membantu pengusaha lokal agar bisa melewati tekanan tersebut.

“Indonesia akan cukup terpukul oleh Brexit dan efek dominonya,” kata Ekonom dari Sustainable Development Indonesia, Dradjad H.Wibowo, di Jakarta, Jumat (24/6).

Dradjad mengatakan, Brexit salah satu pukulan terbesar bagi pasar keuangan global. Saham bank-bank besar Inggris seperti Barclays dan RBS rontok 17 persen bahkan sempat tembus level terendah 30 persen pada sesi awal bursa. Padahal London adalah salah satu pusat keuangan dunia. “Itu baru awal,” kata Dradjad.

Sekarang kata dia, partai-partai kanan di Prancis, Italia, dan Belanda, mulai menyerukan referendum yang sama. Diketahui, Prancis dan Italia adalah perekonomian kedua dan ketiga terbesar di Eropa. “Singkatnya, volatilitas, ketidakpastian dan risiko global naik drastis. Biasanya, jika sudah demikian, dana-dana akan lari ke aset yang dianggap aman. Mungkin lari ke AS, sampai jelas siapa yang jadi Presiden AS mendatang,” kataya.

Biasanya dalam kondisi seperti ini, Dradjad mengatakan Indonesia menjadi korban. Dampaknya, harga utang pemerintah dan swasta makin mahal, ekspor makin terpukul karena pasar Eropa terguncang. “Sementara Tiongkok belum pulih. Penerimaan pajak makin berat karena kinerja perusahaan melemah,” imbuhnya.

Dradjad mengatakan, saat ini masih terlalu awal untuk menganalisis dampak Brexit dan efek dominonya. Yang jelas, dipastikan efeknya jauh dari sekedar buruk.

“Saran saya kepada pemerintah, kencangkan ikat pinggang melalui disiplin anggaran, dan bantu perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menjaga kinerjanya. Pemerintah dan dunia usaha harus bersatu menghadapi volatilitas, ketidakpastian dan risiko global yang melonjak. Jangan lupa proses negosiasi keluarnya UK bisa memakan waktu dua tahun. Banyak sumber risiko ke depan,” kata dia.

 

 

sumber:beritasatu.com

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: