Melihat Dari Dekat Kekompakan Warga Kampung Tini’ di Dumoga Utara

BOLMONG – Mendung bergelayut di langit Dumoga saat kami menuju Desa Mopugad Utara, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, bersama pemerintah desa setempat, Selasa (28/02/2023). ”Di desa ini ada sebuah pemukiman yang dinamakan Kampung Tini’, yang secara administratif bagian dari RT 1 Dusun 1. Ada sekitar 18 kepala keluarga. Tapi karena jaraknya terpisah jauh sekitar 2,5 kilometer jadi dinamakan Kampung Tini,” kata kepala desa (sangadi) Mopugad Utara, Heri Setiawan. Akses jalan ke Kampung Tini’ juga masih rusak. Hanya kendaraan roda dua yang masih cukup mulus melewati jalan bebatuan dan lumpur di sepanjang perjalanan. Itu pun dengan perlahan-lahan.
Seorang yang ditokohkan di Kampung Tini’, Amu Pomalango mengatakan, pemukiman ini berawal dari tahun 1997 ada sekitar 10 orang perantau dari Gorontalo yang mencari nafkah di lokasi pertambangan. ”Tini’ itu adalah nama lokasi pertambangan rakyat, tak jauh dari pemukiman. Pemukiman ini awalnya adalah perkebunan tempat persinggahan untuk beristirahat. Kemudian pemilik kebun menjual kaplingan, hingga menjadi pemukiman yang dinamakan Kampung Tini,” kata Pomalango.

Saat ini, warga di Kampung Tini’ tak hanya berprofesi sebagai penambang. Karena sebagian besar juga mulai berkebun dan menggarap sawah. ”Karena lokasinya juga sekitar 400 meter dari kawasan taman nasional, jadi mereka juga menanam tanaman tahunan seperti kakao, sebagai penyangga hutan lindung,” imbuh sangadi. Walaupun jauh dari Desa Mopugad Utara, namun secara administratif Kampung Tini’ mendapat pelayanan yang sama dengan penduduk lainnya, berupa pengurusan administrasi kependudukan yakni KTP, KK, Akte Kelahiran, hingga bantuan resmi yang bersumber dari anggaran pemerintah, seperti BLT, PKH, BPNT dan lainnya. ”Kami hanya dipisahkan jarak, tapi hak mereka sebagai warga negara tetap terpenuhi,” kata sangadi.

Jauhnya akses membuat warga Kampung Tini’ kesulitan ke tempat ibadah. Bahkan, sejumlah warga berinisiatif membuat musholah sederhana dari papan untuk sholat, bernama Mushola Al-Ikhlas. Namun, sebulan lalu pemerintah desa bersama warga mulai berembuk untuk membangun musholah permanen. Mereka mulai patungan dengan membeli lahan berukuran 15×20 meter dengan harga Rp 7 juta. ”Syukur Alhamdulillah para donatur mulai berdatangan. Ada yang menyumbang pasir, batu, semen, besi, kayu, seng dan batako. Target kami, mushola ini sudah bisa digunakan pada bulan ramadan nanti,” kata sangadi. Ia juga berharap, pemerintah bisa membangun akses jalan ke Kampung Tini’. Heri yang sudah dua periode menjabat sangadi ini juga menyampaikan terima kasih, kepada para donatur dari berbagai latar belakang profesi, hingga kelompok pengajian dari luar desa yang sudah menyisihkan rezekinya untuk pembangunan mushola di Kampung Tini. ”Mewakili panitia pembangunan mushola dan masyarakat Kampung Tini, saya mengucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT membalas amal jariyah para donatur,” pungkas sangadi. (Faisal Amu)




