Feature

Kemerdekaan di Tanah Eks Transmigrasi Mopuya

Pawai pembangunan dan lintas etnis, yang digelar setiap tanggal 18 Agustus di Mopuya. (foto: faisal amu)

Terik matahari yang mulai menyengat ubun-ubun siang itu, tak mematahkan semangat Pak Mugiman mengecat pagar rumahnya. Agak kesiangan, karena dari pagi sekitar pukul 06.00 wita ia bekerja di sawah milik seorang pengusaha di Mopuya. Ia dan keluarganya adalah eks transmigran dari Banyuwangi, Jawa Timur yang datang ke Desa Mopuya, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow pada tahun 1971. Rombongan transmigran pertama yang datang waktu itu.

Saya mampir sebentar sekadar menanyakan kabar Pak Mugi, sapaan akrabnya, saat ia sedang istirahat sejenak. Mungkin dalam setiap momentum HUT Kemerdekaan RI, dia adalah orang yang pertama kali mempersiapkan lingkungan rumahnya dengan hiasan merah putih. Beberapa kerabat saya di Mopuya juga mengatakan seperti itu. Tak lama kemudian, seorang anak perempuan berambut ikal mengantarkan kopi untuk Pak Mugi.

Pria berusia 68 tahun ini bercerita sejenak tentang awal mula kedatangannya di Mopuya, yang waktu itu belum dimekarkan menjadi enam desa seperti sekarang. ‘’Rombongan transmigran pertama sebanyak 50 kepala keluarga (KK). Saat itu, setiap KK mendapat lahan seluas 50×50 meter, dan rumah kayu yang siap dihuni,’’ kata Pak Mugi dengan aksen Jawanya, walaupun sudah puluhan tahun di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Setiap keluarga transmigran juga diberikan sawah dan lahan untuk berkebun. Namun, sebagian besar masih hutan belantara, dan bukan tanah siap olah. Hampir setengah tahun mereka membabat hutan itu. ‘’Pada tahun yang sama, datang juga transmigran berjumlah 50 KK dari Bojonegoro. Mopuya sudah mulai ramai,’’ imbuhnya sambil menyeruput kopi. Pada tahun 1972 datanglah transmigran Bali, hingga Mopuya menjadi majemuk dari segi agama, suku dan budaya.

Ia juga salah satu pekerja di pembangunan rumah-rumah ibadah yang berdekatan di Mopuya pada tahun 1973. ‘’Kami di sini juga unik. Dikenal sebagai Indonesia Mini. Barometer kerukunan yang sebenarnya ada disini,’’ imbuhnya. Sebelum rumah-rumah ibadah itu dibangun, hanya ada satu tempat ibadah yang dipakai bergantian. Sebuah bangunan kecil beratap seng, dan dinding papan serut. Sebelumnya bangunan itu dipakai sebagai gudang logistik, menyimpan sembako milik kanwil transmigrasi. ‘’Hari Jumat dipakai Umat Muslim sholat. Hari Sabtu dan Minggu untuk kebaktian Umat Kristiani,’’ kenangnya sambil tersenyum.

Kesejahteraan warga Mopuya mulai meningkat. Mulai ada pembangunan rumah-rumah ibadah secara terpisah, di atas lahan yang sudah disiapkan pemerintah. Tiap rumah ibadah mendapat lahan seluas 2.500 meter persegi. Pak Mugi diberi tugas mengawasi pembangunan Masjid Al Muhajirin. Secara bersamaan juga dibangun Gereja Masehi Injili, Pura Puseh, Gereja Pantekosta, dan Gereja Katolik Santo Yosep, ikut dibangun warga etnis Tionghoa yang belakangan masuk ke Mopuya. ‘’Rumah ibadah yang saling berdekatan seperti ini hanya ada di dua tempat, yakni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan di Mopuya. Tapi di TMII itu setingan, beda dengan di Mopuya yang didasari toleransi dan keberagaman penduduknya,’’ katanya sambil tertawa.

Karena mulai gerimis, Pak Mugi memilih tidak meneruskan pekerjaan mengecat pagarnya. Ia melanjutkan cerita tentang awal kedatangannya di Mopuya. ‘’Sebentar, saya bersih-bersih dan ganti pakaian dulu,’’ katanya sambil masuk ke dalam rumah. Mengenakan kaos bermotif cokelat, Pak Mugi menawarkan secangkir minuman untuk saya. ‘’Minum dulu mas. Biar kuat mendengar lanjutan cerita saya,’’ kelakarnya sambil meletakkan minuman di atas meja.

Perekonomian di Mopuya kemudian berkembang pesat. Bahkan, melebihi desa-desa lain di Dumoga yang juga menjadi tujuan transmigrasi, seperti Desa Werdhi Agung, Desa Kembang Merta dan Desa Mopugad. ‘’Modal awal kami hanya bertanam kedelai dan jagung di lahan yang diberikan pemerintah. Setelah perlahan-lahan menanam padi, kemajuan perekomian mulai terasa,’’ lanjutnya.

Tak sampai sepuluh tahun, Mopuya melejit menjadi wilayah kemakmuran petani. Semua hasil panen dari desa-desa sekitar, singgah dulu di Mopuya sebelum dijual ke Kotamobagu dan Manado. ‘’Sekitar tahun 80 an, perekonomian Mopuya semakin melejit. Semua hasil pertanian dan perkebunan transit dulu di Mopuya, baru dijual ke Kotamobagu hingga Manado,’’ kenangnya.

Saat itu juga, Mopuya menjadi lumbung berasnya Sulawesi Utara, dan menjadi catatan emas program transmigrasi Orde Baru. ‘’Sekitar tahun 1981, pasar Mopuya itu sudah lengkap. Mulai datang pedagang-pedagang besar etnis Tionghoa, dari Ujung Pandang, dan Gorontalo,’’ kata Pak Mugi.

Toleransi dan keberagaman juga semakin kuat dan terpelihara. ‘’Bukan hanya lumbungnya beras, tapi juga lumbungnya keberagaman. Karena rumah-rumah ibadah yang berdampingan itu kan dibangun tepat di tengah desa,’’ imbuhnya. Dari situlah muncul juga perkawinan campur. Saling pindah agama, saat sepasang muda mudi mantapkan langkah ke jenjang perkawinan. ‘’Sebelum menikah, pasangan itu sudah menentukan dulu agama yang akan disakralkan,’’ katanya.

Ia bahkan berapa kali mengikhlaskan keponakannya menikah dengan etnis Bali menjadi Umat Hindu. Banyak juga etnis Minahasa beragama Kristiani pindah Agama Islam. ‘’Kalau soal pernikahan bercampur, kami sudah biasa. Bukan persoalan disini,’’ katanya dengan tersenyum.

Menurutnya, tugas yang paling penting menjaga kerukunan di Mopuya. Pernah suatu hari, kala itu bertepatan dengan Hari Raya Natal yang jatuh pada hari Jumat. Lantunan adzan dari Masjid hingga khotbah bersamaan dengan Misa di Gereja. Sementara di Pura juga sedang persiapan sembahyang Purnama. ‘’Makanya, sebagian besar orang yang datang ke Mopuya sering berkelakar, Tuhan bingung mendengar doa di Mopuya. Doa mana yang harus dikabulkan,’’ katanya sambil tertawa.

Namun, Mopuya juga sering ada konflik sosial. Walaupun, itu bukan karena masalah perbedaan dan keberagamannya. Tapi persoalan pertambangan liar di perbukitan Dumoga. ‘’Desa ini berada di tengah wilayah pertambangan emas. Jadi, jika ada konflik antar penambang, Mopuya menjadi lokasi konfliknya. Sering terjadi seperti itu,’’ imbuhnya.

Setelah Pak Mugi menceritakan awal kedatangannya sebagai transmigran di Mopuya, saya menanyakan tentang semangatnya membenahi lingkungan rumah, setiap menjelang HUT Kemerdekaan RI. ‘’Keluarga saya banyak pejuang mas. Paman-paman saya di jawa adalah bagian dari sejarah perjuangan bangsa ini. Semangat itu juga yang melatarbelakangi kami para eks transmigran dari jawa,’’ katanya tersenyum.

Hampir semua warga eks transmigran di Mopuya bersemangat saat memperingati HUT Kemerdekaan RI. Bahkan, diperingati dengan semeriah mungkin. Setelah melakukan upacara tepatnya tanggal 17 Agustus yang dipusatkan di lapangan Mopuya, besoknya tanggal 18, ribuan warga seantero Dumoga Utara larut dalam perayaan pawai kemerdekaan, karnaval pembangunan, dan berbagai lomba.

Para peserta pawai kemerdekaan ini pun datang dari berbagai desa se Kecamatan Dumoga Utara. Ada yang dari siswa-siswi TK, SD, SMP dan SMU, ibu-ibu PKK, lembaga-lembaga adat dan agama, serta masyarakat luas. Karnaval ini menampilkan motor, mobil truk dan pick up yang dihiasi semenarik mungkin, barisan siswa-siswi lengkap dengan marching bandnya, serta anak-anak yang berpenampilan bak tentara, polisi, petani, penari, juga berbagai hiasan figura lainnya. Karnaval ini diadakan setiap tahun selain memperingati hari kemerdekaan, juga untuk mempererat hubungan di antara masyarakat Mopuya, dan Kecamatan Dumoga Utara umumnya.

Ia juga menilai bahwa acara seperti ini lebih mempererat hubungan emosional di antara warga yang berasal dari berbagai kultur. ‘’Ini adalah bukti bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di Dumoga Utara merupakan suatu rahmat yang tak ternilai harganya,’’ katanya. Karakter masyarakat yang unik inilah hingga Mopuya menjadi proyek percontohan, model toleransi dan pluralisme bagi masyarakat internasional pada awal tahun 2000.

Matahari mulai tergelincir. Pak Mugi harusnya beristirahat siang. Saya jadi tak enak, karena awalnya hanya mampir sebentar untuk sekadar bertegur sapa. ‘’Yuk, makan siang dulu disini. Anak saya masak ikan teri goreng dan sayur lodeh,’’ ajaknya. Namun, saya hanya bisa berterimakasih dengan tawarannya. Harus segera pulang sebelum hujan semakin lebat. Pak Mugi menambah wawasan saya tentang sebuah kemerdekaan, dan semangat nasionalisme bagi masyarakat eks transmigran di Kabupaten Bolaang Mongondow. (Faisal Amu)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: