Merdeka untuk Paru-paru Dunia

Mendung bergelayut di langit Dumoga, saat saya menuju rumah I Wayan Tiasa, seorang petani yang turut menyangga kawasan hutan lindung dengan berbagai tanaman di kebunnya, di Desa Mopugad Utara, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. ‘’Saya baru 15 tahun berkebun disana. Kalau warga lain mungkin sudah puluhan tahun,’’ kata Tiasa, sapaan akrabnya. Kebun itu berjarak 100 meter dari tapal batas taman nasional. Punya sertifikat lengkap, dengan luas dua hektar lebih.
Memang kala itu di tahun 80 an, kawasan hutan lindung di perbatasan Sulawesi Utara–Gorontalo itu ramai pengunjung, terutama wisatawan asing serta para peneliti lingkungan hidup, dan juga pencinta alam. Berada di Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari kejauhan sudah tampak
cottage-cottage mungil dari kayu, tertata apik di tengah asrinya alam, dikelilingi pepohonan lebat khas hutan hujan.
Deru seru arus sungai Toraut yang tersedak mendadak, tertahan bendungan Toraut yang tersohor itu, serta ‘penampakan’ beragam satwa unik yang hanya bisa ditemukan di pulau Sulawesi ini, seperti Anoa dan Burung Maleo.
Tak kurang dari tujuh air terjun spektakuler, dapat ditemui oleh para pendaki yang rela berjalan menembus hutan. Jalannya sudah dilengkapi dengan pos-pos peristirahatan, petunjuk jalan, serta
plang-plang nama tumbuhan langka, sampai ke puncak-puncak perbukitan di sekelilinginya. Semua itu tinggal kenangan. Taman
Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), atau yang lebih dikenal sebagai Taman Nasional Dumoga Bone, yang seyogyanya dikelola oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan–Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumber Daya Alam, bekerjasama dengan Badan Pengembangan Wallacea, kini rusak berat. Cottage-cottage yang dulu amat mengundang, hancur tak terawat. Akses ke sana pun sudah bolong-bolong dan sulit dilalui tanpa kendaraan yang memadai.
Sebuah jembatan gantung untuk menyebrangi Sungai Toraut yang berada di belakang kantor TNBNW, sebagai akses pertama untuk memasuki kawasan primer hutan ini, kini patah-patah, lapik dan rapuh, serta tak bisa lagi digunakan. Anoa sudah sulit ditemukan. Burung-burung maleo yang biasanya ramai berceloteh, kini bungkam sepi karena telur-telurnya sering diambil secara liar. Seluruh area jadi tidak aman dengan munculnya pertambangan liar
di sekitar hutan. Belum lagi perambahan hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sungguh memprihatinkan.
Sekarang, satu-satunya cara ‘menikmati’ taman nasional ini, kalau
masih ada yang bisa dinikmati, adalah menyebrangi air deras Sungai
Toraut setinggi dengkul dengan berjalan kaki, berusaha keras melawan arusnya di atas bebatuan licin di dasarnya. Lalu dilanjutkan dengan trekking yang dulu sebenarnya sudah rapi terbuat, bukti otentik penebangan liar yang terjadi di sana. Jadi harus berhati-hati agar tidak tersesat.
Untuk menuju ke air terjun pertama, ada sebuah jembatan gantung lagi yang seharusnya ditemukan setelah trekking menyusuri pinggiran sungai selama 45 menit. Namun jembatan ini pun sudah rusak berat. Mau tak mau, harus kembali menyebrangi Sungai Toraut, yang di bagian lebih dalam (sepinggang) dengan arus lebih kuat.
Setelah itu mencari bagian sungai yang ditumbuhi pepohonan. Terdapat akar-akar bergelantungan kokoh di atas permukaan sungai, sebagai tempat berpegangan agar tak hanyut terbawa arus. Dari sana, hanya berjalan sekitar 25 menit lagi dan sampailah di lokasi air terjun terdiri dua tingkat yang cukup tinggi itu. Sedangkan lokasi-lokasi lainnya kini sudah lebih sulit dicapai, karena jalur-jalur ke sana benar-benar sudah tertutup tanaman berduri.
Beberapa kali bisa melihat Burung Maleo melintas. ‘’Itu pun dalam keadaan mujur. Karena memang sangat jarang sekali melihat Maleo,’’ kata Tiasa. Maleo adalah sejenis burung gosong yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 sentimeter, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon. Kini, burung unik ini mulai terancam punah.
Burung unik itu kebanyakan hidup di pegunungan Mokintop, Desa Pinonobatuan dan Muara Pusian Desa Pusian. Maleo terus berkembang biak hingga dilakukan penangkaran oleh Balai TNBNW.
Maleo Dumoga sudah banyak diteliti para ahli dari berbagai universitas dan ahli internasional, termasuk ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengambil gelar doktor. “Memang banyak tertarik dengan Maleo di wilayah ini, tetapi saya selalu imbau warga lain untuk tidak sembarang ambil spesies ini. Apalagi sejenis burung gosong yang dilindungi,” imbuh Tiasa, yang memang tahu banyak tentang hewan endemik.
Yang unik dari Maleo, saat baru menetas. Anak burung maleo sudah bisa terbang, dengan ukuran telur burung maleo beratnya sekitar 240 gram hingga 270 gram per butirnya, ukuran rata-rata 11 cm, dan perbandingannya sekitar lima hingga delapan kali lipat dari ukuran telur ayam.
Sebelum aktif berkebun, Tiasa berkerja di kapal laut asing. Banyak pengetahuan yang ia dapat dari teman-temannya soal konservasi dan hewan endemik. ‘’Hanya modal bertanya saja kepada teman-teman aktivis lingkungan. Mereka punya banyak pengalaman soal konservasi hutan,’’ kata bapak tiga orang anak ini, sembari tertawa.
Menurutnya, fungsi hutan yang sebenarnya adalah peneduh, hingga mengurangi pemakaian energi. ‘’Dengan menjadikan hutan sumber ekonomi hijau. Alias, masyarakat mengelola dan manfaatkan hasil hutan bukan kayu, tapi tanaman tahunannya. Maka, warga yang bergantung hidup dari hutan, sudah menjaga kelestarian hutan itu,’’ katanya dengan mimik muka serius.
Ia kemudian berpendapat, soal fungsi hutan sebagai sumber ekonomi yang menyebabkan pembabatan hutan secara liar, marak terjadi. ‘’Ini menurut saya saja. Banyak warga tidak memikirkan fungsi hutan sebagai sumber keanekaragaman ekosistem, yang memungkinkan untuk berkembangnya keanekaragaman hayati,’’ katanya. Selain itu, fungsi hutan untuk menjaga erosi, tanah longsor, serta mengatur persediaan air tampaknya kurang memiliki nilai penting bagi sebagian orang.
Ia bahkan mencontohi bencana banjir yang terjadi belum lama ini. ‘’Dumoga ini kan pernah terjadi banjir besar. Berapa waktu lalu juga jembatan Kosio putus, karena arus yang kuat. Bendungan Toraut tak bisa menampung air sebanyak itu,’’ imbuhnya. Di akhir pertemuan kami, ia kemudian menaruh harapan kepada masyarakat Dumoga umumnya, untuk ‘merdekakan’ taman nasional, minimal dari kebun masing-masing. ‘’Sebenarnya saya agak malu. Rasanya tidak mungkin merdekakan taman nasional. Itu hanya pemikiran saya sendiri. Tapi, semoga ada usaha yang sama dari masyarakat lain,’’ katanya dengan tersenyum.
Ia bahkan berniat menambah tanaman pohon lainnya di kebun. Tapi pohon petik buah, bukan hasil panen berupa kayu seperti pohon jati. ‘’Itu seperti menanam dan merambah lagi, jika jenisnya jati,’’ katanya sembari tertawa. Berbagai tanaman di kebun yang dibelinya dari warga Desa Kopandakan itu. Seperti buah-buahan, alpukat, jeruk, pisang, mangga, sirsak dan nangka. Banyak juga tanaman tahunan seperti kemiri dan kakao. Niatnya hanya satu, menyangga hutan lindung. Mungkin tidak seberapa. Apalagi, hanya dari lahan perkebunan seluas dua hektar. Namun, ia punya semangat untuk mengembalikan kejayaan hutan lindung, sebagai paru-paru dunia. (Faisal Amu)




