Nasional

Tantowi Yahya: Perlu Total Football Menjaga Papua di Pangkuan NKRI

Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya bersama Komisaris Transmedia Ishadi Soetopo Kartosapoetro (SK).

Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya menyerukan semua pihak di tanah air untuk bersatu padu menjaga Papua agar tetap nyaman di lingkungan keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini untuk mengimbangi berbagai kampanye negatif oleh pihak-pihak yang ingin agar wilayah paling timur Indonesia itu berpisah dari NKRI.

“Bila kita tak hati-hati, Papua dan Papua Barat sangat mungkin lepas dari NKRI dengan magnitude yang lebih besar dari lepasnya Timor Timur pada 1999,” kata Tantowi saat bertandang, Senin (31/7/2017) sore. Ia diterima antara lain oleh Komisaris Transmedia Ishadi Soetopo Kartosapoetro (SK), Direktur Pemberitaan Ridwan Dalimunthe, dan Pemimpin Redaksi detikcom Iin Yumiyanti.

Tantowi antara lain menyebut Benny Wenda, Herman Wanggai, Octovianus Mote, dan Jacob Rumbiak sebagai tokoh-tokoh Kelompok Separatis Papua (KSP) atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang terus bergerilya merongong Papua. Ada tujuh negara yang terdeteksi mejadi basis perjuangan mereka, diantaranya Australia, Selandia Baru, Inggris, Amerika, Prancis, dan Afrika Selatan sebagai basis kampanyenya.
“Kebetulan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull sangat pro NKRI, makanya belakangan ini fokus gerakan mereka berpusat di Wellington, Selandia Baru,” ujar Tantowi.

Untuk mengcounter dan mengimbangi aksi-aksi para aktivis KSP dan jaringannya, Tantowi berharap kalangan LSM, media massa, anggota DPR, akademisi, bahkan para penguasaha di Indonesia juga bersuara dan berjuang melakukan diplomasi dengan caranya masing-masing.
“Kalau mereka begitu sistematis mengkampanyekan upaya pemisahan Papua, kita juga harus total football mengimbangi dan mengcounternya. Jangan cuma diserahkan ke Kementerian Luar Negeri,” ujar mantan anggota Komisi I DPR-RI itu.

Selama tiga bulan bertugas sebagai duta besar dirinya mengaku telah melakukan safari kunjungan ke para pengambil kebijakan strategis di ‘Negeri Kiwi’ tersebut. Selama Juli, dia antara lain menemui Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Gerry Brownlee, Menteri Pendidikan Tinggi Selandia Baru, Paul Goldsmith, dan Jaksa Agung yang juga merangkap Kepala Badan Intelijen Christoper Finlayson.

Sebelumnya, pada awal Mei Tantowi mengunjungi delapan universitas ternama di Selandia Baru, salah satunya Auckland University of Technology (AUT). Kepada Rektor AUT Derek McCormack, ia antara lain menyayangkan adanya kegiatan nonakademik di kampus seperti kampanye politik dan diskusi tidak berimbang terkait isu Papua.
Andai yang melakukan adalah warga Papua, hal itu masuk kategori kebebasan berpendapat. Tapi mereka yang melakukan kampanye untuk memisahkan Papua dari NKRI adalah orang-orang non Papua. Ini tentu harusnya tak boleh ditolerir apalagi difasilitasi pihak kampus.

Kepada McCormack maupun rektor lain yang ditemuinya termasuk Paul Goldsmith Tantowi mengaku selalu mengungkapkan sejumlah data, bahwa 90 persen susu dan daging domba diimpor dari Selandia Baru. Sementara 30 ribu turis asal Indonesia berkunjung ke Selandia Baru. “Tapi bila tahu negeri ini mendukung separatisme Papua, tentu tak akan ada lagi impor dan kunjungan turis dari Indonesia,” papar Tantowi.

detik.com

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close