Tiga Ibu Muda Ini, Tolak Program “full day school”

ProBMR, Kotamobagu- Usulan Menteri Pendididikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, adanya sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik sekolah negeri maupun swasta di Indonesia, mendapat perhatian sejumlah elemen masyarakat lebih khsusus orang tua murid. Meski belum dijalankan resmi pemerintah, namun penolakan terhadap kebijakan tersebut mulai menui protes dari orang tua murid.
Terbukti, beberapa orang tua murid yang dimintai tanggapanya soal wacana yang digagas oleh menteri pendidikan tersebut, dianggap akan memberatkan para siswa. “Usulan kebijakan ”full day school” sangat memberatkan siswa. Jangankan seharian di sekolah, dengan jam sekolah sekarang ini saja, anak saya saja yang kelas 3 SD sering mengeluh,” kata Nova Damopolii, ibu muda yang single parents ini.
Hal yang sama dikatakan Resty Damopolii (30), menurut dia harusnya pemerintah mencari motode lain yang lebih baik untuk meningkatakan minat siswa agar betah di sekolah. “Kebijakan ini harus dikaji lagi sebelum diterapkan. Jangan sampai akan merampas hak bermain anak,” kata Resty.
Senada dikatakan, Inda Sari (31), ibu muda yang sehari-harinya bertugas di kantor Wali Kota ini, menolak karena kesempatan anak-anak bersama keluarga akan berkurang dan bisa memancing tingkat stress terhadap anak. “Jangan sampai anak-anak menjadi stress seharian di Sekolah. Saya yakin selaku oranng tua, tidak mau jika hal tersebut terjadi,” kata Indah.
Sebelumnya, Muhadjir Effendy, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru saja dilantik, mengusulkan adanya sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik sekolah negeri maupun swasta di Indonesia. Hal ini ingin diberlakukan agar anak-anak tidak sendirian saat orangtua mereka masih bekerja.
“Sistem sekolah seperti ini akan membuat karakter mereka terbangun secara perlahan. Sehingga mereka tidak akan bertingkat liar di luar sekolah saat orang tua masih bekerja.” Kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy Usai menjadi pembicara di Universitas Muhammadiyah Malang.
Hingga saat ini, usulan ini masih terus disosialisasikan secara intensif dengan pihak sekolah, mulai dari sekolah yang berada di pusat hingga daerah. (ddj)




