Nasional

Teka-teki Tewasnya Dosen ITB dan Luka di Kepala

Dosen SBM ITB, Suryo Utomo (30)

Dosen SBM ITB, Suryo Utomo (30), pergi tanpa pesan usai mengantar ibunda ke Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Jawa Barat. Jasadnya ditemukan Waduk Cirata, Cianjur. Kematian pria berkacamata ini menyisakan tanda tanya besar.
Suryo hilang bagai ditelan bumi sejak Rabu 10 Mei 2017. Keluarganya kemudian melapor ke kepolisian. Keluarga memastikan Suryo tidak tidak ada masalah apapun dalam keluarga kecilnya.

Keluarga menceritakan Suryo sebelumnya pernah tidak sadarkan diri selama dua hari di Rumah Sakit Borromeus Bandung pada Maret 2017 lalu. Namun, pemeriksaan dokter tidak ditemukan adanya penyakit yang diderita Suryo. Setelah menjalani perawatan selama sepekan itu, Suryo sering melamun. Namun, ayah satu orang anak ini tetap menjalani kesehariannya sebagai seorang dosen di SBM ITB. Tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkannya.

Setali tiga uang, pihak SBM ITB menilai Suryo sebagai sosok pribadi yang baik dan tidak memiliki masalah sepanjang jadi . Suryo tercatat pertama kali bergabung dengan SBM ITB sejak Juni 2010. Dia menyemat tiga gelar, S.E.,AK., M.AK. “Pak Suryo orangnya biasa saja. Normal-normal saja,” kata Kepala Bagian Administrasi SBM ITB Sukmayani.

Jejak Suryo akhirnya terlacak saat mobil yang dikendarainya Vios bernopol F 1031 DC warna abu-abu ditemukan oleh petugas Polsek Ciranjang di perbatasan Bandung-Cianjur, Jawa Barat, pada Kamis 11 Mei 2017. Suryo diperkirakan sempat berada Cianjur. Dia diketahui mampir ke ATM dan salah satu toko di kawasan Ciranjang karena ditemukan struk transaksi penarikan dan pembayaran. Kondisi mobil maupun barang-barang milik Suryo seperti KTP, SIM, STNK, dompet dan HP masih rapi di dalam mobil. Kunci juga masih menggantung di mobil.

Pada Sabtu 13 Mei 2017, sekumpulan bocah menemukan sesosok mayat yang mengambang di Waduk Cirata, Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Mayat pria itu mengenakan kaos hitam bergambar cangkir dengan tulisan ‘Djogja’ dan hanya celana dalam. Anak-anak itu lalu melaporkan kepada petugas Polsek Ciranjang. Jasad itu kemudian dibawa ke RSUD Cianjur.

Penemuan mayat tersebut disampaikan polisi kepada keluarga Suryo. Istri Suryo memastikan jasad tersebut adalah suaminya. Ada kecocokan jenazah dengan ciri-ciri korban sebelum dinyatakan hilang. Salah satunya dari baju yang dikenakan oleh Suryo. Selain itu, ibunda Suryo juga meyakini jasad itu adalah putranya hal ini terlihat dari bekas operasi di dada dan adanya tanda di kaki.
Jasad Suryo kemudian diautopsi. Tim Forensik dari RSUD Sayang Cianjur dan Dokter Kepolisian menduga Suryo meninggal dunia sekitar dua hingga tiga hari sebelum ditemukan di Waduk Cirata, Cianjur, pada Sabtu 13 Mei 2017. Ada sejumlah luka ditemukan di tubuh Suryo. Salah satunya luka memar di bagian kepala Suryo.

Namun penyebab kematian Suryo masih menyimpan misteri dan terus diselidiki oleh polisi. “Namun belum kita pastikan (luka) itu akibat apa, termasuk (apakah) kemungkinan penganiayaan. Kita akan pastikan karena lukanya acak,” ujar Kapolsek Ciranjang Kompol Sjafri Lubis.

Demikian pula dengan keluarga yang juga meyakini Suryo tidak ada masalah sehingga tidak mungkin dibunuh ataupun bunuh diri. “Kita yakin Suryo tidak dibunuh apalagi bunuh diri. Selama ini dia baik-baik saja, tidak ada masalah keluarga apalagi punya musuh,” kata paman Suryo, Widanarto.

Suryo yang meninggalkan seorang istri, Gabriella Wibowo, dan anak pertama yang lahir sebulan lalu telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikutra.

(detik.com)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close