Bolmong

Tawur Kesanga di Desa Mopugad Berjalan Khidmat dengan Protokol Kesehatan

Pengurus PHDI Mopugad di lokasi upacara Tawur Kesanga. (Foto: Faisal Amu/Pro BMR)
BOLMONG – Umat Hindu Desa Mopugad Bersatu menggelar upacara keagamaan Tawur Kesanga di Catur Muka perempatan desa, Sabtu (13/3). Prosesi Tawur Agung Kesanga dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943. Seperti saat upacara Melasti dua hari lalu, Tawur Kesanga juga diikuti umat Hindu dalam jumlah terbatas, dan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Mereka mengenakan busana khas Bali. Mengenakan udeng (ikat kepala) bagi laki-laki, dan kebaya bagi wanita, mengenakan masker dan menjaga jarak. Di sekitar Catur Muka, tersedia lengkap aneka sesaji, air suci, kelapa muda, buah jeruk, pisang, buah pir, janur kuning, hio swa, serta piranti sembahyang lainnya.

Terdapat juga rumah sesaji persembahan bagi Buta Kala dari bambu yang dikelilingi anyaman daun kelapa. Ibu-ibu tampak menata sesaji di rumah bambu yang dihias rumbai-rumbai dari janur kuning. Setelah semua siap, umat Hindu berkumpul di bawah pohon beringin dan sekitar Catur Muka dan memanjatkan doa dalam tapa brata (meditasi). Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Mopugad Bersatu I Nengah Puji SPd MSi mengatakan, upacara Tawur Kesanga merupakan upaya pembersihan alam semesta, yang salah satu esensinya berupa ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena selama ini telah banyak memberikan anugerah dari alam semesta. Tawur Kesanga juga merupakan upaya untuk melepaskan sifat serakah yang melekat pada diri manusia. “Itulah esensi dari Tawur Kesanga. Jadi, nanti ada pembersihan, pencaruan, dan lain sebagainya. Itu bentuk secara spiritualnya,” jelasnya.

Umat Hindu Desa Mopugad Bersatu di Upacara Tawur Kesanga. (Foto: Faisal Amu/Pro BMR)
Tahapan dalam Tawur Kesanga itu melaksanakan pencaruan dengan memberikan persembahan kepada Buta Kala baik yang ada di alam semesta, dan juga dalam diri manusia. Seperti aura negatif, perilaku negatif, kesombongan, dan keserakahan. Pembersihan itu dilakukan sebelum melakukan brata penyepian. “Sehingga ketika masuk dalam brata penyepian, sifat Buta Kala itu harus direduksi. Ketika melaksanakan brata penyepian dalam kondisi hening dan khusyuk, sehingga doa-doa akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.
Lanjutnya lagi, upacara Tawur Kesanga ini seharusnya diikuti oleh seluruh umat Hindu Mopugad Bersatu dan Tumokang. Namun melihat kondisi dan kesehatan lantaran wabah korona, serta adanya imbauan dari pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas massa, harus dihormati karena untuk kebaikan bersama. ”Yang hadir ini hanya perwakilan saja dari setiap banjar. Jadi memang sedikit, tidak seperti sebelum ada wabah Covid,” pungkasnya. Setelah melakukan Tawur Kesanga, umat Hindu melantunkan doa selama 24 jam. Mereka juga mendoakan bangsa Indonesia agar segera terhindar dari bencana wabah Covid-19. Turut hadir, anggota DPRD Bolmong I Ketut Sukadi SE, sejumlah sangadi (kepala desa) setempat. (Faisal)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: