Bolmong

Esok Puncak Ritual Adat ‘Mogonow Kon Lipu’ Digelar di Desa Siniyung

BOLMONG– Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) dikenal dengan daerah yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat, warisan leluhur turun temurun.

Meski perkembangan global dan kemajuan teknologi, tak bisa dipungkiri mampu mengikis budaya yang ditinggalkan leluhur. Upaya-upaya, untuk tetap mempertahankan budaya atau adat istiadat di Bolmong terus dilakukan.

Buktinya, dewan adat Desa Siniyung Kecamatan Dumoga, kembali menggelar acara adat Mogonow Kon Lipu (Pengobatan Kampung). Acara adat Mogonow Kon Lipu sudah berlangsung sembilan hari sejak 5 Ferbruari lalu sampai 13 Ferbuari kemarin dan akan disusul acara puncak ritual adat 15 Februari esok.

Menurut, Taeba Gaw Ketua lembaga adat desa Siniyung, Mogonow Kon Lipu ini dilakukan dengan tujuan pengobatan kampung. “Ini kami percayai untuk mengobati masyarakat sehingga bisa berpikir positif, segala penyakit disembuhkan, bahkan dijauhkan dari pemikiran yang jahat, juga terus dilindungi oleh Ki Togi Kawasa (Sang Pencipta, red),” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk hari pertama di mulai dengan ‘Pinotogotan Kon Undam (Pengikatan Obat) tradisional. “Jadi semua obat-obatan tradisonal diikat dan disatukan dan dibungkus di dalam daun woka. Nah, dari daun woka itu, warga mengambil air dan ditampung pada bambu yang sudah disediakan.

Kemudian dibawa ke petugas atau salah satu orang tua yang dipercayakan untuk disalurkan ke kumpulan obat tradisional di dalam ikatan daun woka. Setalah itu, airnya digunakan untuk mencuci muka, minum, dan digunakan untuk mandi,” katanya.

Menariknya dalam acara adat itu, para dewan adat masih menggunakan baju adat Motayok (tarian, red), sejak tahun 1979 yang hanya bisa digunakan oleh tiga orang yang menurut kepercayaan mereka telah ditunjuk langsung oleh leluhur. “Ya, tiga pasang baju adat digunakan dari tahun 1979, dan sampai sekarang masih digunakan, dua pasang untuk perempuan, dan satu pasang untuk laki-laki,” katanya.

Dikatakan Taeba Gaw, acara adat Mogonow Kon Lipu ini tidak hanya dikhususkan untuk orang Bolmong saja, namun terbuka untuk umum. “Terbuka untuk umum, dari daerah manapun bisa berkunjung. Kita kan berdoa bersama kepada Tuhan. Jadi semua bisa berkunjung dan mengikuti acara adat ini,” tuturnya.

Terpantau, sejak 5 Ferbuari sampai 13 Februari, acara adat sudah berlangsung, di baloi atau puangan adat Bolmong kon Siniyung (rumah adat Bolmong di Siniyung), dan didahului oleh para Dewan adat, dan pimpinan agama serta kepala desa.

“Selama sembilan hari, warga banyak berkumpul di Puangan, adat Bolmong, untuk mendengarkan nasehat leluhur. Berharap setelah mengikuti adat ini, segalah perbuatan apapun yang jahat dijauhkan, dan sehat jasmani maupun rohani, serta hidup bersih,” kata Gaw.

Sementara untuk ritual puncak, akan dilaksanakan besok 15 Februari. Seperti biasanya, kumpulan obat yang diikat didalam daun woka, akan dibawa ke sungai ongkag dan akan dihanyutkan. “Seluruh masyarakat akan datang ke sungai ongkag, dan tradisinya mereka akan mandi bersama, baik laki-laki maupun perempuan, setelah itu akan saling memperebutkan potongan obat di dalam daun woka itu. Potongan-potongan kayu yang didapat, bisa digunakan untuk obat di rumah,” terangnya.

Sementara itu, Suan Lampongajo pemerintah desa Siniyung mengatakan, sangat mendukung penuh acara adat tersebut. “Ini memang sudah menjadi kebiasaan dan tujuannya baik. Itu merupakan acara puncak, obat di dalam daun woka yang akan diperebutkan, diikuti dengan perahu-perahu kecil untuk dihayutkan ke sungai, dengan harapan semua kejahatan, sakit penyakit, serta semua hal yang tidak baik ikut hanyut,” katanya mengakhiri. (Ind)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: