Bolmong

Tantang Sumpah Pocong! Begini Penjelasan Yasti dan Tatong Bara Terkait Masalah Hutang Piutang Jainuddin 2,5 Miliar

BOLMONG– Bupati Kabupaten Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow tantang mantan Wakil Walikota Kotamobagu Jainuddin Damopolii untuk melakukan sumpah pocong.

Hal ini menyusul adanya masalah antara Yasti Soepredjo Mokoagow dan Jainudin Damopolii tentang hutang sebanyak Rp 2,5 miliar saat Pilwako tahun 2013 lalu.

Berdasarkan penuturan Bupati Yasti saat menggelar konferensi pers bersama dengan sejumlah wartawan di Agra Coffee Kelurahan Matali Kecamatan Kotamobagu Selatan Minggu (6/1) malam. Sampai saat ini, Jainuddin tak kunjung mengakui hutang kepadanya sebesar Rp 2,5 Miliar sejak 2013 lalu.

Yasti yang juga didampingi Walikota Kotamobagu Tatong Bara dan Wakil Walikota Kotamobagu Nayodo Koerniawan secara detail menjelaskan proses peminjaman uang saat itu, memasuki proses Pilkada Kotamobagu pada tahun 2013 silam.

Menurut Yasti, Jainuddin meminta Yasti yang adalah Ketua PAN Sulut untuk dipasangkan dengan Tatong Bara. “Jainudin banyak kali datang kepada saya untuk bermohon agar dipasangkan dengan Tatong Bara waktu itu,” ungkap Yasti.

Karena merasa Jainudin adalah sosok orang tua, kemudian Yasti telah menanyakan apa motivasi Jainuddin untuk maju dan berpasangan dengan Tatong Bara. “Jawaban Jainudin kepada saya ialah usianya sudah tak muda lagi, makanya ingin mengabdikan diri kepada masyarakat Kotamobagu melalui pencalonan Wawali,” kata Yasti menirukan pernyataan Jainudin.

Akhirnya kata Yasti, dirinya menyetujui Tatong Bara berpasangan dengan Jainudin Damopolii. Namun, Tatong Bara awalnya tidak mau berpasangan dengan Jainudin, tapi sudah diyakinkan oleh Yasti.

Sebelum resmi berpasangan saat maju di Pilkada 2013 kata Yasti, Jainuddin mengaku bahwa memiliki dana Rp 2,5 miliar. Namun setelah deklarasi yang dihadiri Ketua Umum PAN Hatta Radjasa, baru terkuak ternyata Jainuddin tidak punya dana.

“Selang beberapa hari beliau datang ke rumah saya dan memohon meminjam uang Rp 500 juta. Nah, uang 500 juta yang diberikan itu, sebenarnya akan diberikan ke Masjid yang merupakan sumbangan dari Hatta Rajasa. Tapi karena sudah bermohon akhirnya uang Rp 500 juta itu diberikan tanpa kwitansi biar diganti. Jadi catat ya, tanpa kwitansi karena saya percaya,” jelasnya ke awak media.

Dijelaskan, kendati proses pencalonan sudah melewati tahapan hingga mendekati hari H, uang yang dijanjikan Jainuddin ternyata tidak ada. Guna menutupi janji tersebut Jainuddin datang dengan membawa tiga buah sertifikat lengkap dengan surat perjanjian yang dibuat sendiri.

“Jadi surat perjanjian itu dibuat sendiri lengkap dengan tiga buah sertifikat. Bahkan tanda tangan bisa diperiksa di forensik, kalau tahun berapa saya tanda tangan. Itu saya ditanda tangan di tahun 2015, sebab saya sangat kecewa dan merasa ditipu. Surat perjanjian yang Jainudin antar tidak saya baca,” jelasnya.

Diketahui, Pilkada Kotamobagu tahun 2013 silam, menghadirkan empat pasangan calon mendaftar di KPU. Salah satunya adalah petahana Walikota Kotamobagu Djelantik Mokodompit yang berpasangan dengan Rustam Simbala.

Walaupun menang atas petahana pada Pilkada 2013 silam, namun menurut Yasti, tidak sedikit energinya serta biaya yang disiapkan. Mulai dari akomodasi tim hingga aksesoris lainnya kami yang siapkan, tanpa ada biaya dari calon wakil Walikota Jainuddin Damopolii.

Nah, uang Rp 500 juta yang dipinjamnya diguanakan untuk keperluan pribadi, bukan kepentingan tim pemenangan.

Yasti tidak pernah meminta dibuatkan kwitansi dan jaminan surat perjanjian dari Jainudin, jadi surat perjanjian tersebut mereka yang buat sendiri. “Jadi siapa yang berdusta. Makanya saya tantang untuk sumpah pocong agar siapa yang berdusta keluarganya siap mati siksa. Begitu pula sebaliknya apabila ucapan saya salah, maka saya bersama keluarga akan mati,” tuturnya. “Politik itu komitmen, itulah sengaja saya untuk meminta agar disumpah pocong. Silahkan undang Imam dari mana, dan di Masjid mana kita sumpah pocong,” tegasnya.

Sementara itu, Walikota Kotamobagu Tatong Bara menambahkan, soal peminjaman berawal dari Manado. Surat perjanjian tersebut mereka buat sendiri. “Saya pesimis karena mendekati Pilwako, dana yang dijanjikan untuk Pilwako Rp 2,5 miliar tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Menurutnya, yang menjadi pertanyaan, apa kontribusinya kepada tim pemenangan saat Pilwako. “Berbicara politik, kami tidak berbicara terkait hutang, tapi adalah komitmen. Kami menuntut Jainudin untuk mengakui dan tidak memutarbalikan fakta,” tuturnya.

Sementara itu Jainuddin Damopolii saat dimintai tanggapan awak media terkesan menolak secara halus tantangan tersebut hal ini terlihat dari sejumlah pertanyaan awak media yang tidak ditanggapi secara jelas. “Sumpah lagi dengan Odi-odi supaya lengkap. Kayaknya tidak penting saya tanggapi karena nanti dianggap pencitraan. Terserah merekalah, mau ke KPK atau kemana. Siapa takut? tapi kalau sekedar pencitraan, tidak usahlah,” terang Papa Et sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Papa Et mengungkapkan masih menghargai penegak hukum atau menghindari biaya pengacara. Hal ini sudah terjadi pada herkules, akhirnya tidak ada hasil, bahkan orang orang yang kemarin di Odi-odi hari ini, sehat sehat, justru Herkules yang sudah dilapor sampai di Mabes Polri tidak ada kabarnya,” singkatnya. (Ind)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: