EkonomiKotamobagu

Mie Ojo Primadona Kuliner Warga Kotamobagu

Salah satu usaha pembuatan mie ojo di Kotamobagu.

PROBMR.COM, KOTAMOBAGU- Dengan bertambahnya pilihan berbagai menu  makanan yang dijual di kantin maupun cafe. Namun makanan mie ojo masih menjadi kuliner favorit di kotamobagu. Hampir semua kantin dan caffe di kotamobagu menyediakan makanan ini sebagai salah satu kuliner khas Kotamobagu.

Dengan permintaan yang banyak, tentunya usaha pembuatan mie ojo banjir pesanan bahkan bisa meraup keuntungan. Seperti insdustri mie ojo milik Nurlina Damopilii (36), yang terletak di Jalan Gembira Kelurahan Motoboi Kecil Kecamatan Kotamobagu Selatan. Menurutnya, usaha yang Ia beri nama mie ojo putri garuda ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Kotamobagu, bahkan luar kotamobagu.

Nurlina menceritakan, tempat pembuatan mie ojo yang berukuran kurang lebih 7×7 meter ini mulanya adalah sebuah warung. Kemudian dialihfungsikan menjadi kantin kecil.

Karena kualitas dan rasa mie yang Ia buat cukup banyak peminat, sehingga akhirnya Linda memutuskan untuk memperluas usahanya dengan menjadi distributor mie ojo yang akan dijual di setiap kantin maupun caffe-caffecyang ada di Kotamobagu.

“Kurang lebih enam tahun saya mulai membuat Mie Ojo ini. Awalnya saya usaha warung, kemudian usaha kantin. Nah, karena banyak warga yang memesan mie ojo ini, sehingga saya putuskan untuk lebih baik menjadi pengusaha mie ojo saja yang akan dijual di setiap tempat-tempat usaha di Kotamobagu,” cerita Mama Pitri, sapaan akrabnya.

Sudah banyak pelanggan yang Ia miliki, tak tanggung-tanggung, dirinya mampu menghabiskan sebanyak empat sak tepung dalam sehari untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Sebab, para pelanggannya tidak hanya dalam kota saja, namun juga datang dari luar Kotamobagu.

“Ada yang dari Gorontalo, Manado hingga daerah tetangga lainnya. Nah, untuk mempertahankan pelanggan itu, maka permintaannya harus dipenuhi,” ujarnya

Dari usaha tersebut, Ibu dua anak ini mampu mencetak pendapatan kurang lebih Rp 400.009 setiap harinya. “Harganya kan per kilogram itu 11 ribu, sedangkan dalam satu sak terigu itu terdapat 33 kilogram, jika dikalikan empat sak, lumayanlah buat tambah-tambah penghasilan suami,” ujarnya

Meski begitu, Nurlina masih mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk memperluas usahanya.

“Saya berharap bantuan berupa mesin pencampur atau mixer untuk menambah hasil produksi mie,” harapnya (*)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: