Bolmong

Warga Tolak Pembangunan Tapal Batas oleh Pemkab Bolsel

BOLMONG– Pembangunan tugu tapal batas Pemerintah Kabupaten Bolsel, antara Kabupaten Bolmong dan Kabupaten Bolsel tepatnya di wilayah kepolisian Desa Matali Baru dan Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong sementara berlangsung.

Namun, proses pembangunan tugu berbanderol sekira Rp 800-an juta itu, diminta warga dengan tegas aktivitas pekerjaannya dihentikan. Ya, pembangunan, tersebut menuai protes dari masyarakat Kecamatan Lolayan, dikarenakan pembangunan tugu yang terletak tepat di puncak Bukit Tongara itu dinilai sepihak.

Kepala Desa (Sangadi) Matali Baru, Oslan Paputungan meminta agar Pemkab Bolsel menghormati proses hukum yang sementara ditempuh Pemkab Bolmong. “Proses Judicial Review atas Permendagri Nomor 40 Tahun 2016 tentang tapal batas antara kedua daerah ini sementara berjalan. Jadi tolong hormati itu. Jangan diam-diam membuat tugu tapal batas seperti ini, yang justru bisa memicu konflik horizontal antara Bolsel-Bolmong,” kata Oslan, saat meninjau langsung pembangunan tugu tapal batas, di puncak Bukit Tongara, kemarin.

Senada dikatakan, Sangadi Desa Bakan, Hasanudin Mokodompit. Dirinya juga mengecam keras pembangunan tugu tapal batas oleh Pemkab Bolsel. “Ini sangat disayangkan. Kami saja yang notabene desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bolsel tidak tahu adanya pembangunan tapal batas. Masyarakat kami (Desa Bakan) pun marah. Hanya saja, saya selaku Kepala Desa masih meminta untuk menahan diri,” kata Hasanudin, yang juga turut meninjau lokasi.

Sementara itu, Camat Lolayan, Faisal Manoppo, menuturkan, dirinya selaku pimpinan wilayah Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bolsel juga keget dengan informasi dari masyarakat terkait pembangunan tapal batas.

Padahal menurutnya, kedua daerah ini sudah sepakat untuk menunggu hasil keputusan Mahkama Agung (MA) atas Judicial Review yang diajukan Pemkab Bolmong. Mendengar informasi tersebut, dia selaku Camat juga langsung meninjau lokasi bersama beberapa Sangadi. “Menurut saya, langkah yang diambil Pemkab Bolsel ini justru bisa memicu konflik. Sebaiknya, tunggu hasil keputusan MA. Kami pun seperti itu. Apapun hasilnya nanti, kami juga akan menerima,” tutur Faisal.

Di sisi lain, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, Camat meminta pihak kontraktor yang mengerjakan proyek tapal batas tersebut untuk sebaiknya sementara waktu menghentikan aktivitas. “Saya selaku pimpinan wilayah sangat tidak menginginkan terjadi konflik di lokasi tapal batas. Jadi sebaiknya, untuk sementara waktu pekerjaannya dihentikan dulu,” imbau Camat kepada para pekerja, di lokasi.

Sekadar diketahui, turut meninjau lokasi, Sangadi Desa Kopandakan II, Marwan Palakum, Sangadi Desa Mangkang, Lam Makalalag, Sangadi Lolayan, Dedi Mokotoloy, Sangadi Tanoyan Utara, Jasman Tonggi, tokoh masyarakat Lolayan, Marsidi Kadengkang, dan sejumlah warga. (Ind)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: