Bolmong

Dumoga Jadi ‘Bali’ nya Sulut

BOLMONG— Warga Kabupaten Bolaang Mongondow (Bomong), berbondong-bondong menuju Dumoga. Tujuan mereka hendak menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang digelar
oleh umat Hindu di Desa Werdhi Agung, Kecamatan Dumoga Barat, Jumat (16/3).
Ya, kegiatan tahunan ini, untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, tahun 2018 oleh seluruh umat hindu. “Ya, meski kami bukan umat hindu, tapi hal ini sangat menarik untuk disaksikan. Banyak sekali warga yang datang setiap pelaksanaan pawai ogoh-ohoh seperti ini, sekaligus juga sama-sama merayakan bersama para umat hindu, apalagi di Dumoga persatuan dan toleransi antar umat beragama sangat tinggi,” ungkap sejumlah  warga yang berkunjung.
Berdasarkan pantauan, pelaksanan pawai ogoh-ogoh sangat ramai. Selain menyaksikan aksi yang ditampilkam para umat hindu, warga pengunjung juga menjadikan ogoh-ogoh ini tempat untuk mengambil koleksi foto selfie, seperti terlihat di media sosial Facebook dan lainnya. Menariknya, saat warga menghadiri pelaksanaan pawai ogoh-ogoh ini mereka menyebut seperti sudah berada di ‘Bali’. “Ya, berkunjung ke Dumoga sudah seperti berkunjung ke Bali. Bahkan Dumoga sudah bisa dibilang ‘Bali’ nya Sulut,” tutur Yunita Hangkemona warga Siniyung.
Bupati Bolmong Dra. Hj Yasti Soepredjo Mokoagow melepas 35 peserta pawai ogoh-ogoh tersebut. Pelepasan, ditandai dengan pemukulan Gong sebagai tanda menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, tahun 2018 yang jatuh pada Sabtu (17/3) besok.
Menurut Yasti, pawai ogoh ogoh ini, merupakan tradisi luhur bagi umat Hindu, yang merupakan kelanjutan dari upacara Taur Agung Kesanga, yaitu suatu ritual dalam mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan alam. “Ogoh-ogoh merupakan simbol dari sifat angkara murka, kesombongan, keserakahan dan perilaku buruk, yang ada pada diri manusia. Sifat
-sifat buruk dan negatif itulah, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh yang diarak keliling Desa. Dengan maksud, agar perilaku buruk dan negatif yang ada pada diri manusia, dapat ikut bersama dalam ogoh-ogoh akan pada akhirnya akan ikut terbakar habis,” kata Yasti.
Dirinya berharap, umat hindu dapat memaknai acara ini, dengan menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya, bagi dirinya dan segenap alam semesta. Dirinya mengaku bangga atas keberagaman etnis, budaya dan agama di Bolmong, namun tetap hidup rukun dan damai karena sifat toleransi dan solidaritas yang tinggi antar umat beragama. “Solidaritas dan toleransi yang tinggi tersebut, merupakan suatu kekuatan dan kekayaan bagi kita semua untuk bergerak maju bersama sama membangun kabupaten bolmong, sehingga dapat terwujud masyarakat, yang semakin rukun, damai dan sejahtera,” harapnya.
Lanjutnya, umat Hindu yang ada di Bolmong, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perjalanan kehidupan daerah ini. k
Karena mereka telah bersama sama dengan seluruh komponen masyarakat yang ada untuk memberikan yang terbaik bagi pembangunan. “Karenanya, kepada saudara-saudaraku dari provinsi bali yang telah lama tinggal dan menetap di daerah ini, jangan lagi menyebut sebagai orang bali. Namun menyebut diri sebagai orang bolmong, karena kalian sudah menjadi bagian dari masyarakat Bolmong,” katanya memgakhiri.
Sekadar diketahui, hadir dalam acara tersebut, Kapolres Bolmong, AKBP. Gani F Siahaan, SIK, SH, Wakil Ketua DPRD Bolmong, Ir. Kamran Muchtar, beberapa anggota DPRD Bolmong diantaranya, I Nengah Sukadi, I Nyoman Sarwa, senumlah pejabat Bolmong, Ketua Parisade Kabupaten Bolmong Ir. Nyoman Sukra Msi, Ketua Parisade Desa Werdhi Agung bersatu, tokoh agama, tokoh masyarakat dan puluhan peserta ogoh-ogoh. (Ind)
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: