Indonesia Diprediksi Jadi Negara Importir Energi di 2027

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan Indonesia akan total mengimpor energi dimulai pada tahun 2027. Kondisi ini akan terjadi jika tidak ada perubahan dalam pola konsumsi dan jenis energi yang lebih ramah lingkungan.
Hal tersebut mencuat dalam outlook BPPT 2016. Outlook energi ini rutin dikeluarkan BPPT setiap tahun. Di dalamnya memuat prediksi pasokan dan kebutuhan energi 2016-2050. Tahun ini, outlook energi BPPT bertema pengembangan energi untuk mendukung industri hijau.
Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, diperkirakan mulai tahun 2029 terjadi ketidakseimbangan antara ekspor dan impor energi. Kondisi ini membuat semakin menipisnya cadangan batubara dan diperkirakan Indonesia sebagai net importir minyak.
“Seperti sekarang perilaku dan konsumsi kita terus meningkat. Tanpa perubahan bahkan net impor gas bisa terjadi di tahun 2027,” katanya dalam Outlook Energy BPPT 2016 di sela Kongres Teknologi Nasional di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (25/7).
Selain itu, diperkirakan cadangan batubara akan habis pada 2046. Pada posisi itulah Indonesia akan menjadi negara net importir batubara.
Terkait pengembangan energi terbarukan lanjut Unggul, pengembanganya masih belum optimal. Di sisi lain kapasitas, keberlanjutan pasokan dan harga masih menjadi kendala pengembangannya.
“Dalam grafik, pembangkit batubara semakin banyak alasannya murah dan bisa berskala besar. Hal ini tidak bisa diperpanjang karena batubara akan habis,” ucapnya.
Oleh karenanya, pemerintah harus berani moratorium. Kalau perlu tidak ada penambangan untuk ekspor kecuali hanya untuk kebutuhan dalam negeri. Unggul menambahkan, produksi batubara 400 juta ton per tahun, konsumsi dalam negeri 75 juta ton, selisihnya diekspor.
“Ketika kita butuh banyak cadangan, yang kita punya cadangannya sedikit,” ujar Unggul.
Sementara itu sebagai alternatif energi, nuklir menjadi pilihan yang tidak bisa dihindarkan. Menurutnya, Indonesia harus berani memakai sumber energi lain seperti nuklir.
“Masalahnya hanya di waktu kapan akan segera memulai. Itu semua hanya untuk listrik, belum lagi pasokan energi untuk transportasi yang saat ini sangat bergantung bahan bakar minyak (BBM),” paparnya.
Unggul meminta, perlu upaya untuk meningkatkan penyediaan transportasi publik seperti kereta api listrik yang secara teknologi dan ekonomi sudah memadai penguasaannya.
Selain itu angkutan barang pun bisa mengandalkan kereta api listrik selain mengurangi macet juga mengurangi penggunaan BBM.
sumber:Beritasatu.com




