BolmongFeature

Inilah Ritual Sakral Warga Siniyung Rebutan Obat di Sungai Ongkag

2017-03-20-PHOTO-00000110

Terik matahari yang menyengat ubun-ubun siang tadi, tak menyurutkan semangat ratusan warga Desa Siniyung Kecamatan Dumoga menggelar ritual adat. Sebuah ritual memperebutkan obat tradisional yang disatukan dan diikat di daun woka. Acara yang disakralkan warga Siniyung ini digelar setiap tahun secara turun temurun.

Laporan : Indra SS Ketangrejo – DUMOGA

Sejak pukul 12.00 wita, Senin (20/3) ratusan warga desa yang terdiri dari berbagai usia berkumpul di rumah adat setempat. Selang beberapa jam kemudian warga langsung memadati Sungai Ongkag. Ritual ini diadakan oleh dewan adat setempat. Namun, salah satu anggota dewan dipercayakan memimpin acara adat. Pria berumur 79 tahun itu memang bergelar Mogogonow (tukang obat), bernama Salim Manggopa. Walaupun berseragam corak merah sama seperti pemangku adat lainnya, namun pria berjenggot putih lebat itu menggunakan kain khusus di kepalanya dan berkain sarung, pertanda sebagai identitas khusus Pinobarakatan atau orang yang diberkati untuk melepaskan obat.

2017-03-20-PHOTO-00000107

“Kami memang sangat senang mengikuti acara rebutan obat ini. Jadi obat dari kumpulan potongan kayu yang kami dapat dari hasil rebutan tersebut bisa digunakan untuk mandi. Sehinga bisa menjadi obat penyakit, bahkan hal yang jahat dijauhkan,” ungkap sejumlah warga. Tak hanya itu, ternyata di dalam kumpulan obat tradisional itu, ada satu potongan kayu yang dianggap paling inti, dari semua kumpulan kayu dan daun yang ada di dalam ikatan daun woka tersebut. “Ada satu yang paling pokok untuk dicari oleh masyarakat, tapi tidak mengurangi kegunaan dari potongan kayu lainnya.  Kayu tersebut memang sulit untuk ditemui dan dianggap sangat penting menurut kepercayaan adat di sini,” ungkap Unja Tungkagi warga Siniyung.

Sejak dibukanya acara adat Mogonow Kon Lipu (Pengobatan Kampung) ini, Minggu (12/3) pekan lalu, hingga puncak acara adat Senin (20/3) hari ini, setiap warga membawa air dan ditampung pada bambu yang sudah disediakan, untuk diisi air daan diberikan ke petugas atau salah satu orang tua yang dipercayakan. Kemudian air dari bambu tersebut disalurkan ke kumpulan obat tradisional yang diikat dan disatukan di dalam daun woka untuk mandi. Bahkan, selama minggu berjalan pada acara Mogonow Kon Lipu ini, setiap malamnya para dewan adat dan orang-orang yang dipilih  atau yang diberkati menggelar ritual, sehingga mereka bisa berkomunikasi langsung dengan leluhur. Pada ritual ini, warga bisa mendengarkan nasehat positif dari leluhur yang turun ke salah satu  dewan adat yang dirasuki oleh leluhur.

2017-03-20-PHOTO-00000109

Hingga pagi tadi sudah ada persiapan ritual puncak acara adat tersebut, mulai dari membuat makanan tanpa ada campuran garam dan bumbu lainnya atau dikenal dengan masakan pada zaman dulu. Dalam makanan tersebut, para dewan adat lengkap dengan baju adat, pemerintah desa, dan para pimpinan jemaat dari berbagai agama yang ada di Desa Siniyung serta masyarakat sama-sama meminta berkat dari Kitogi Kawasa (Sang Pencipta atau Yang Maha Esa) bahwa semua syarat yang diwariskan oleh leluhur kepada mereka, sudah dilakukan. Melalui ini, mereka meminta kiranya diberkati oleh Yang Maha Esa, dan diterima. Ini dipimpin oleh Ketua lembaga adat Desa Siniyung, Taeba Gaw dengan menggunakan bahasa Mongondow.

Usai doa bersama, semuanya makan menerima berkat. Selang waktu habis makan bersama, warga memepersiapkan diri untuk bersama mengikuti para Dewan adat yang akan membawa kumpulan obat untuk diperebutkan di sungai ongkag Dumoga. “Obat-obatan yang diikat di daun woka itu, dibawa bersamaan dengan perahu-perahu kecil yang sudah berisi sisa makanan yang dimakan bersama sebelumnya, dengan pengertian, segala yang jahat terbawa air dengan perahu-perahu kecil tersebut. Sementara obat yang ada di dalam woka digunakan untuk mandi bersama baik laki-laki maupun perempuan turun ke sungai, setelah itu diperebutkan warga,” jelas Taeba Gaw.

2017-03-20-PHOTO-00000108

Sementara itu, Salim Manggopa anggota Dewan adat berharap setelah mengikuti acara  adat ini, segalah perbuatan apapun yang jahat dijauhkan, dan sehat jasmani maupun rohani, serta hidup bersih,” harapnya. Terpisah, Suan Lampongajo pemerintah desa Siniyung mengatakan, acara ini biasanya digelar setiap tahun dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun. “Biasanya setiap tahun, tapi ini sudah sekitar lima tahun baru dilakukan lagi. Semoga melalui ritual ini, apa yang kita harapkan baik pikiran sehat, damai, dan banyak rejeki terpenuhi,” tutupnya. (*)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close