Tumbuhnya Harapan Petani, di Bawah Teduhnya Kakao

Matahari baru saja merangkak naik ketika Hajan Paputungan menyusuri kebunnya. Cahaya pagi menyelip di antara daun-daun kakao. Beberapa buah bergelantungan di batang, sebagian masih hijau, lainnya mulai berubah warna.
Hajan berhenti di depan salah satu pohon. Tangannya memeriksa batang dan daun. Ia sesekali menunjuk bagian tanaman yang menurutnya perlu diperhatikan. Kebun itu kini terlihat terawat. Barisan tanaman tersusun rapi. Jarak setiap pohon adalah ruang untuk petani berjalan dan merawat tanaman.
Namun, pemandangan itu tidak selalu seperti sekarang. “Saya dan keluarga bergantung penuh pada tanaman kakao,” kata Hajan. “Dulu kami terpuruk karena hasil tidak memuaskan. Empat ratus pohon kakao lokal yang saya tanam selalu gagal panen karena serangan hama.”
Usianya kini 52 tahun. Bertahun-tahun menjadi petani membuatnya hafal dengan perubahan kebun: kapan tanaman berbunga, kapan buah mulai muncul, dan kapan hama datang menyerang. Pada masa sulit itu, kebun tidak selalu menjadi sumber penghasilan. Untuk membiayai sekolah anak, Hajan pernah menjual kebun dan berutang.
Ia mendapatkan informasi program bantuan kepada petani kakao dari PT J Resources Bolaang Mongondow. “Saya mulai mendaftarkan diri dan berharap perubahan dari hasil panen kakao ke depan,” katanya. Dari program Corporate Social Responsibility atau CSR PT JRBM, Hajan menerima 300 bibit kakao, pupuk dan obat pengendali hama. Bibit kakao lokal yang sebelumnya ditanam mulai diganti dengan bibit unggul. Tetapi bantuan bibit hanya awal dari cerita. Yang kemudian mengubah cara Hajan mengelola kebunnya adalah pendampingan.

Pukul Enam Pagi dari Kotamobagu
Kisah tentang kebun Hajan Paputungan itu disaksikan langsung, saat puluhan jurnalis bersama tim PT JRBM dan TEMPO Institute berkunjung ke Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Jumat 18 September 2026.
Rombongan berangkat dari salah satu hotel di Kotamobagu sekitar pukul 06.00 Wita. Pagi masih malu pancarkan sinarnya ketika perjalanan dimulai. Jalanan perlahan meninggalkan kawasan kota. Tujuan rombongan adalah perkebunan kakao kelompok Tunas Baru, kelompok petani yang diketuai Hajan.
Chief Sustainability Officer PT J Resources Bolaang Mongondow, Anang Rizkani Noor, memimpin rombongan bersama tim CSR perusahaan. Perjalanan pagi itu bukan sekadar kunjungan ke kebun. Rombongan diajak melihat bagaimana sebuah program pemberdayaan petani diterjemahkan menjadi praktik: dari memilih bibit, mengatur jarak tanam, merawat tanaman, membuat pupuk, sampai menyiapkan sumber bibit sendiri.
Sesampainya di Matali Baru, suasana berubah. Kebun menjadi ruang belajar. Di antara tanaman kakao, petani menjelaskan apa yang mereka kerjakan. Tim perusahaan dan para pendamping mendengarkan, sesekali memberikan penjelasan. Di tempat itu, ukuran keberhasilan program tidak hanya terlihat dari banyaknya bantuan yang pernah diberikan. Ia terlihat dari perubahan cara petani memperlakukan tanaman.
Teknik Jajar Legowo di Antara Pohon Kakao
Kelompok Tunas Baru menerapkan pola tanam Jajar Legowo. Jarak tanam yang digunakan 2 x 2 x 4 meter. Pola ini memungkinkan populasi tanaman lebih tinggi meskipun luas lahan terbatas. Barisan tanaman terlihat lebih teratur. Ada ruang yang memungkinkan petani bergerak di antara tanaman. Bagi petani seperti Hajan, teknik itu bukan sekadar soal angka jarak tanam. Tantangan berikut yakni pemangkasan ranting, pemupukan akar dan daun, mengendalikan hama dan penyakit, hingga perawatan lainnya. Disinilah pendampingan teknis terus dilakukan.
PT JRBM menunjuk konsultan ahli khusus untuk membantu proses tersebut. Salah satunya Robyn Mamengko, Konsultan Ahli bidang Pupuk Organik PT JRBM. Robyn bersama tim CSR perusahaan mendampingi petani dalam pengembangan pupuk organik yang menjadi bagian dari pendampingan teknis perkebunan. Setelah dari kebun, rombongan ke tempat pembuatan pupuk.

Berasal dari Rumen, Buah, dan Molase
Ada bangunan sederhana, hanya berjarak 300 meter dari perkebunan. Itu pengolahan pupuk organik cair dan padat. Semua bahan bakunya ada di seputaran desa. Pupuk organik cair dibuat menggunakan bahan rumen, buah dan molase. Sementara pupuk organik padat dibuat dari olahan serabut kelapa. Proses pengolahannya dijelaskan Robyn melalui pengeras suara kepada rombongan. Bahanya serabut kelapa, diolah menjadi bahan untuk pupuk organik padat. Diproses melalui berbagai tahapan, hingga bisa dimanfaatkan untuk kebun.
Sisa bahan tidak serta-merta berakhir sebagai limbah. Ia dapat kembali ke kebun dalam bentuk lain. Menurut sebagian besar petani, fungsi pupuk bukan hanya bahan yang ditaburkan ke tanah. Perlahan, petani dikenalkan dengan dasar kebutuhan pupuk, dari berbagai bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Kebun Entres dan Jalan Menuju Mandiri
Pendampingan tidak berhenti pada pupuk. Kelompok Tunas Baru juga mengembangkan kebun entres atau kebun induk sebagai sumber penyediaan bibit dan entres secara mandiri, karena kebun kakao juga membutuhkan stok tanaman. Karena nantinya mereka tidak akan berharap dari bibit yang disalurkan, tapi menjaga tanaman untuk kebutuhan selanjutnya.
Disisi inilah program pendampingan dimulai. Biasanya petani menerima bantuan, kini seakan diwajibkan untuk memiliki kemampuan sendiri menjaga kebutuhan kebunnya. Tahapan ini butuh proses, tentang ilmu baru yang harus dipelajari, dan kebiasaan lama yang harus ditinggalkan.
Ada pengalaman yang berangkat dari kegagalan. Pendampingan secara teknis tentang budidaya, penyuluhan dari ahli tanaman kakao serta keterampilan petani merupakan bagian dari proses tersebut. Salah satu pendamping lapangan adalah Rony Kobandaha. Ia mendampingi petani dalam menerapkan pengetahuan budidaya di kebun. Sebab teori tentang kakao akan kehilangan makna jika tidak sampai ke batang tanaman.

Tak Sekadar Memberi Bibit
Hajan masih mengingat bagaimana kondisi kebunnya sebelum program tersebut berjalan. Empat ratus pohon kakao lokal yang pernah menjadi andalannya tidak mampu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Serangan hama membuat sebagian tanaman gagal berproduksi.
Kini, setelah bertahun-tahun mendapat pendampingan, cara pandangnya terhadap kebun berubah. Ia tidak lagi sekadar menunggu buah tumbuh. Ia belajar mengamati tanaman. Ia mengenal bibit yang digunakan. Memahami jarak tanam. Mengenal pupuk dan pengendalian hama. Ia juga mengetahui pentingnya pemangkasan dan perawatan tanaman.
Semua perubahan perilaku di kebun itu, tidak bisa ditaksir dengan angka. Namun, umumnya cara berpikir sebagian besar petani dapat menentukan, apa yang terjadi pada kebun belasan hingga puluhan tahun ke depan. Program CSR akhirnya tidak berhenti pada pembagian bibit. Ada pengetahuan yang ditanam bersama bibit tersebut. Ada keterampilan yang tumbuh bersama tanaman. Dan ada kebiasaan baru yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan petani.
Kebun Menjadi Ruang Belajar
Hari mulai beranjak siang. Udara di sekitar kebun terasa lebih hangat. Percakapan antara jurnalis dan petani masih berlangsung. Mereka mengaku, tidak lagi mengerjakan semuanya dengan teknik yang sama, seperti belum mendapatkan pengetahuan dan pendampingan.
Ada Jajar Legowo di antara barisan tanaman. Ada kebun entres yang dipersiapkan untuk sumber bahan tanam. Ada pupuk organik yang dibuat dari bahan-bahan di sekitar. Ada pendamping yang datang memberi pengetahuan. Dan ada kelompok Tunas Baru yang menjadi ruang bagi petani untuk belajar bersama.
Hajan tidak mengatakan bahwa semua persoalan sudah selesai. Petani tetap berhadapan dengan risiko. Harga komoditas dapat berubah. Hama dapat datang kembali. Cuaca tidak selalu bersahabat. Namun, Saat ini ia sudah memiliki cukup banyak pengetahuan untuk menghadapi tantangan itu.
Hajan berjalan di antara pepohonan kakao, di kebun yang pernah membuatnya berutang dan menjual sebagian lahan untuk sekolah anak. Kini, pohon-pohon itu kembali memberinya alasan untuk berharap.
Di Desa Matali Baru, harapan tersebut tidak tumbuh sendirian. Ia tumbuh bersama bibit unggul, pupuk organik, kebun entres, pola tanam yang lebih teratur, pendampingan teknis dan kemauan petani untuk mengubah cara mereka bekerja. Seperti kakao yang membutuhkan waktu untuk berbuah, perubahan di kebun pun tidak datang seketika. Ia membutuhkan tanah, perawatan dan kesabaran. Dan di antara barisan pohon kakao kelompok Tunas Baru, proses itu sedang berlangsung.
Penulis: Faisal Rachmad Amu,
- Wartawan PROBMR.COM
- Petani Pemula Kakao di Dumoga
- Hobi Fotografi dan Traveling
- Penulis Kemerdekaan di Tanah Eks Transmigrasi Mopuya (Tahun 2020), Merdeka untuk Paru-paru Dunia (Tahun 2021)




