Bolmong

Kasus Pelecehan Seksual Terus Meningkat, Orang Tua Diminta Proaktif Kontrol Anaknya

BOLMONG— Para orang tua di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) diwarning untuk terus menjaga anak-anaknya. Pasalnya, kasus pelecehan seksual terhadap anak di Bolmong untuk awal tahun 2018 sudah terjadi sebanyak 5 kali.
Hal itu berdasarkan penuturan Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Bolmong Farida Mooduto. Menurutnya,  peran aktif orang tua sangat penting untuk mengawasi dan menjaga anak-anaknya, khususnya bagi mereka yang memiliki anak perempuan. “Ini supaya kita terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Maka para orang tua harus lebih berhati-hati dan proaktif dalam mengawasi,” ungkapnya.
Apalagi khasus pelecehan seksual di Bolmong terbilang meningkat setiap tahunnya. Tercatat, tahun 2016 lalu khasus pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi sebanyak 50 kali, sementara tahun 2017 tercatat sebanyak 65 kali. “Setiap tahunnya meningkat, ini harus menjadi perhatian serius. Ini saja baru awal tahun sudah terjadi sebanyai 5 kali,” tambah Mooduto.
Lanjutnya, kejadian tahun 2018 ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmong melalui DP3A  dan Dinas terkait akan sama-sama menangani khasus ini.  “Kami lakukan pendampingan hukum. Tapi kalau sudah di pengadilan,” jelasnya.
Semengara lanjut dia, terkait dengan adanya kejadian di SMP 2 Poigar beberapa waktu lalu, sebabkan para orang tua khawatir untuk memberikan anaknya ke sekolah.  “Pasti sebagian besar orang tua khawatir anaknya ke sekolah. Bahkan bisa saja orang tua akan pergi menjaga anaknya. Karena adanya perbuatan oknum guru yang seperti itu,” ujarnya.
Dirinya berharap, dinas terkait melakukan pembinaan rutin ke murid dan guru. Karena sejauh ini kata dia, pembinaan hanya dari guru ke murid. Sudah seharusnya dari dinas melakukan pembinaan ke guru. “Ini seusai pantauan kami. Supaya, hal seperti ini  tidak lagi terjadi. Karena saat ini nama guru lagi dipertaruhkan, hanya karena oknum tersebut, citra guru akan rusak,” bebernya.
Padahal lanjut dia, sebenarnya seorang guru menjadi contoh bagi siswa. Dan bukan hanya di sekolah saja, tapi di lingkungan sekitar. “Kalau sudah seperti ini apa yang harus dilakukan. Harus juga difungsikan pengawas kecamatan di setiap sekolah. Bukan hanya mengawasi siswa tapi guru juga,” tuturnya.
Sementara itu, di setiap diskusi orang tua murid tedengar banyak yang mulai takut ketika terjadi hal ini. “Kami percayakan anak kami ke guru untuk mendapatkan pendidikan, kalau guru saja melakukan yang tidak diinginkan seperti itu, ke mana lagi kami harus percayakan anak-anak kami,” kata sejumlah orang tua murid yang meminta namanya tak ditulis. (Ind)
Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: