Bolmong
Inilah Sikap Arogan Staf Bawaslu Sulut di Bolmong

BOLMONG – Kegiatan sosialisasi pengawasan pemilu partisipasif dalam rangka pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2017 di Provinsi Sulawesi Utara, yang dilaksanakan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) di kantor Pemkab Lolak, Bolmong, Kamis (04/08), tercederai dengan ulah salah satu staf bawaslu.
Media massa yang seharusnya menjadi mitra Bawaslu, mendapat perlakuan tak terpuji oleh sejumlah staf bawaslu yang berjaga didepan pintu masuk lantai II kantor Bupati Bolmong. Berawal dari kegiatan yang akan segera dimulai, namun 12 wartawan yang mendapat udangan resmi pada kegiatan itu, belum langsung masuk karena masih menunggu beberapa rekan media lainya terkumpul. “Kami belum langsung masuk karena masih menunggu rekan rekan wartawan yang lain. Kami lebih mengutamakan tugas kami sebagai jurnalis untuk meliput kegiatan itu. Meski kami telah diundang melalu surat resmi, tugas kami sebagai jurnalis tetap kami jalankan,” kata Haryono Tungkagi, wartawan Koran Manado.
Setelah 12 media yang diundang terkumpul, barulah mereka menuju ruangan tempat kegiatan sosialisasi dilaksanakan. Namun, saat hendak masuk, salah satu staf mengeluarkan kata kata dengan nada kasar dan arogan. “Ngoni, dari tadi ada pangge pangge nimau maso. (Kalian dari tadi dipanggil panggil tidak mau masuk,” dengan nada keras.
Ucapan nada kasar staf itu, para awak media tidak terima, buntutnya terjadi debat dan bersitegang. Para media ini pun memilih tidak ikut dalam kegiatan dan menunggu sosialisasi selesai, kemudian melakukan konfirmasi kepada Ketua Bawaslu Sulut, Herwyn J H Malonda terkait sikap arogan stafnya itu. “Apa begini SOP yang diterapkan oleh Bawaslu Sulut ketika melayani tamu atau memperlakukan wartawan yang akan meliput. Kami datang pada kegiatan ini sebagai undangan dan sebagai wartawan yang akan melaksanakan tugas jurnalistik. Tapi perlakukan staf bawaslu sangat arogan dan tidak menghargai profesi kami sebagai jurnalis saat akan meliput kegiatan ini. Kami ini kan wartawan, selain sebagai undangan, tugas utama kami meliput untuk bahan berita,” kata Endar Yahya, wartawan Media Sulut.
Perlakuan dengan sikap arogan juga terjadi kepada Yunita Datalamon, wartawan harian Swara Kita. “Saya mau masuk mengambil gambar tapi tidak diijinkan. Ditanya ID Card dan wartawan dari mana. Saya langsung bilang pada staf itu, bapak tanya saja dibagian humas kami ini wartawan dari mana. Karena data wartawan Bolmong yang jelas, itu ada di humas bolmong. Tapi jawaban yang disampaikan staf itu, hargai kami,” urai Yuyun dengan nada kecewa.
Anggota Bawaslu Syamsurizal Musa, juga menyayangkan kejadian itu. “Ini hanya faktor mis komunikasi. Kita akan selesaikan dengan baik-baik,” katanya di hadapan pewarta Bolmong.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Sulut, Herwyn J H Malonda, mengaku tidak tahu dengan sikap arogan yang dipertontonkan stafnya. “Saya tidak tahu hal itu, tapi saya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyaman dan perlakuan staf saya kepada teman teman media,” kata Herwyn saat dikonfirmasi.
Selain itu, dia menjelaskan, kegiatan yang mereka laksanakan dengan meminjam gedung pemda Bolmong, karena pada anggaran kegaitan yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu, tidak ada anggaran untuk sewa gedung. “Sehingga kami laksanakan disini dan meminjam pakai gedung pemda bolmong. Anggaran untuk sewa gedung kami tidak ada, makanya kami laksanakan disini (gedung pemkab),” tandasnya. (mg1)



