Bolmong

Dari Rumen Sapi ke Kebun Kakao

Kamarudin Pontoh, berada di kebun kakao kelompok Tunas Baru, yang menggunakan pupuk organik.

Bau menyengat menyeruak dari sebuah tempat pengolahan di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mogondow, Sulawesi Utara. Ada 20 orang jurnalis bersama TEMPO Institute dan tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) mengunjungi tempat produksi pupuk organik cair, dan pupuk organik padat, Jumat 18 September 2026. Rombongan dipimpin langsung Chief Sustainability Officer PT JRBM, Anang Rizkani Noor, dari Hotel Sutan Raja Kotamobagu, sejak pukul 06.00 wita.

Sumbernya bau bukan limbah yang hendak dibuang. Tapi datang dari bahan yang sedang diolah menjadi pupuk organik: rumen sapi, isi lambung hewan yang selama ini lebih sering dianggap sebagai sisa. Di tempat itu, para petani kakao Kelompak Tunas Baru belajar mengenali sesuatu yang tidak selalu terlihat mata-mikroorganisme yang hidup di dalam rumen dan dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik.

Kamarudin Pontoh, 50 Tahun, berdiri menggunakan tongkatnya di antara petani yang mengikuti proses tersebut. Kamarudin memang terlahir sebagai penyandang disabilitas.

Bagi Kamarudin, kebun kakao bukan sekadar tempat bekerja. Dari tanaman itu ia dan keluarganya menggantungkan hidup. Karena itu, setiap temuan baru yang berpotensi membantu merawat kebun, menjadi sesuatu yang menarik dicoba.

Hari itu, ia melihat langsung bagaimana rumen sapi, buah-buahan dan molase diolah menjadi pupuk organic cair. Di tempat yang sama, serabut kelapa dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik padat. Bahan-bahan itu bersal dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Yang sebelumnya dianggap sisa, kini dicoba dikembalikan ke tanah.

 

Rumen sapi dan mikroorganisme

Robbyn Mamengko, Konsultan Ahli bidang Pupuk Organik PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), menjelaskan proses tersebut kepada para petani. Robbyn ditunjuk PT JRBM bersama tim CSR perusahaan untuk mendampingi pembuatan pupuk organik sebagai bagian dari pendampingan teknis perkebunan.

Doktor pertanian jebolan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini mengatakan, kandungan utama rumen sapi adalah mikroorganisme alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengolahan bahan organik. ‘’Mikroba pada rumen sapi efektif bertindak sebagai dekomposer super pengganti EM4,’’ katanya. Penjelasan itu kemudian berhadapan dengan pengalaman sederhana para petani: bau.

Bau rumen memang tidak samar. “Ternyata pupuk organik dari rumen itu baunya sangat menyengat tapi bagus untuk tanaman,” kata Abdul Marham Koikit, 45 tahun. Ia tidak hanya datang sebagai pengamat. Ia seorang jurnalis yang juga sedang belajar menjadi petani kakao. Ia memiliki kebun seluar satu hektar di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dengan sekitar 900 pohon kakao.

Sebagai petani pemula, Abdul Marham tertarik mencoba pupuk organik berbahan rumen sapi di kebunnya sendiri. Ia ingin mengetahui bagaimana pupuk tersebut bekerja ketika berhadapan langsung dengan tanaman. Ada perbedaan antara mendengar penjelasan di tempat pengolahan dan melihat hasilnya di kebun. Abdul Marham memilih mencoba.

Ada juga pendampingan secara teknis tentang budidaya. Penyuluhan dari ahli tanaman kakao, serta keterampilan petani merupakan bagian dari proses ke depan. Salah satu pendamping lapangan adalah Rony Kobandaha. Ia mendampingi petani dalam menerapkan pengetahuan budidaya di kebun.

Abdul Marham Koikit (bertopi dan berkacamata) mendengar langsung proses pembuatan pupuk organik cair, oleh konsultan ahli Robbyn Mamengko.

Kamarudin dan harapan dari kebun

Bagi Kamarudin, urusan pupuk tidak berhenti pada persoalan tanaman. Ada biaya yang harus dikeluarkan dan hasil panen. Karena selama ini pupuk kimia menjadi salah satu bagian dari perawatan kebun. Saat ini ia ingin mencoba pupuk organik. Harapannya sederhana, bisa menekan biaya perawatan tanpa korbankan hasil kebun. ‘’Harapan saya, penggunaan pupuk organik bisa lebih baik dari pupuk kimia yang biasa kami gunakan.

Selain murah, penggunaanya pun lebih hemat dan hasil panen memuaskan,’’ kata Kamarudin. Harapan itu masih harus dibuktikan di kebun. Pupuk organik bukan solusi akhir yang menentukan hasil tanaman. Adal hal lain, seperti kondisi tanah, perawatan, iklim, serangan hama dan penyakit, ikut menentukan pertumbuhan kakao.

Makanya, penggunaan pupuk organik menjadi sebuah proses yang membutuhkan pengamatan. Kamarudin tidak sedang mencari jawaban dalam sehari. Ia sedang melihat kemungkinan lain bagi kebunnya.

 

Dari tempat pengolahan ke 900 pohon kakao

Bagi Abdul Marham Koikit, satu hektar kebun berisi 900 pohon kakao merupakan ruang belajar. Profesinya sebagai jurnalis, terbiasa mencari informasi dan mengajukan pertanyaan. Namun di kebun, pertanyaan itu tidak selalu bisa dijawab lewat wawancara. Tanaman kakao yang akan memberikan jawabannya sendiri.

Daun akan menunjukkan kondisinya. Tanah akan memperlihatkan perubahan. Pohon akan tumbuh atau tidak tumbuh seperti yang diharapkan. Buah akan menjadi ukuran berikutnya. Itulah sebabnya ia ingin mencoba pupuk organik rumen sapi. Bau menyengat bukan persoalan utama. Justru bau itu menjadi tanda bahwa ia sedang berhadapan dengan bahan yang berbeda dari pupuk yang selama ini dikenal petani.

Kini ia ingin melihat apakah apa yang dipelajari di tempat pembuatan pupuk dapat diterapkan di kebun seluas satu hektare miliknya.

Chief Sustainability Officer PT JRBM, Anang Rizkani Noor bersama konsultan pupuk organik Robbyn Mamengko, dan Kamarudin Pontoh di lokasi pembuatan Pupuk Organik Padat.

Mengubah cara memandang limbah

Pembuatan pupuk organik di Matali Baru membawa satu gagasan sederhana: bahan yang dianggap tidak berguna belum tentu benar-benar menjadi limbah.

Rumen sapi dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik cair. Buah-buahan dan molase menjadi bagian dari bahan pengolahan. Serabut kelapa dimanfaatkan untuk pupuk organik padat. Semuanya berasal dari lingkungan yang dekat dengan petani.

PT JRBM melalui Robbyn Mamengko dan tim CSR perusahaan mendampingi petani dalam proses tersebut. Tujuannya bukan sekadar membuat pupuk. Ada pengetahuan baru. Petani mengenal bahan organik, belajar mengolahnya, dan menerapkannya kebun mereka.

Bagi Kamarudin, pengetahuan itu bertemu dengan harapan untuk menekan biaya dan memperoleh hasil panen yang lebih baik.

Bagi Abdul Marham, pengetahuan itu menjadi eksperimen pertama sebagai petani kakao.

Keduanya kini menunggu jawaban yang sama dari kebun.

Puluhan jurnalis bersama tim CSR PT JRBM melihat langsung pembuatan pupuk organik padat, di desa Matali Baru.

Jawaban itu ada di tanah

Di Matali Baru, cerita pupuk organik tidak berakhir ketika proses fermentasi selesai. Justru saat itulah cerita sebenarnya dimulai. Pupuk dibawa ke kebun. Tanah menerimanya. Akar tanaman menjadi tempat berikutnya untuk melihat apa yang terjadi.

Kamarudin akan mengamati kebunnya. Abdul Marham akan mengamati 900 pohon kakaonya. Belum ada tahu bagaimana hasil akhirnya. Mereka menanam, merawat, menunggu, lalu memanen.

Siklus itu terus berulang. Kali ini, mereka mencoba sesuatu yang berbeda. Dari rumen sapi yang baunya menyengat, lahir pupuk organik. Dari serabut kelapa, lahir pupuk padat. Dari bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sisa, muncul sebuah kemungkinan baru untuk kebun. Di antara pohon-pohon kakao Matali Baru, Hajan dan Abdul Marham kini menunggu. Bukan hanya menunggu buah.

Mereka menunggu jawaban pasti dari tanah. Apakah pupuk organik itu benar-benar mampu membuat kebun lebih baik? Karena Jawabannya tidak berada di tempat pengolahan pupuk. Jawabannya ada di kebun, pada tanah, pada pohon, dan pada buah yang kelak dipanen.

Penulis: Faisal Rachmad Amu,

  • Wartawan PROBMR.COM
  • Petani Pemula Kakao di Dumoga
  • Hobi Fotografi dan Traveling
  • Penulis Kemerdekaan di Tanah Eks Transmigrasi Mopuya (Tahun 2020), Merdeka untuk Paru-paru Dunia (Tahun 2021)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close